UNU NTB dan Gerakan Indonesia Menulis Mengadakan Bedah Novel “Akulah istri Teroris”

UNU NTB dan Gerakan Indonesia Menulis Mengadakan Bedah Novel “Akulah istri Teroris”

Gerakan Indonesia Menulis bekerjasama dengan UNU NTB menyelenggarakan Bedah Buku/Novel karangan Abidah Elhalieqy.  pada kamis 24 Mei 2018, Kegiatan ini bertempat di aula UNU NTB.

Narasumber Kegiatan ini adalah Prof.Dr.TGH. Masnun, MA, (Rais Suriah PWNU/WR I UIN Mataram), Bapak Kombes Pol. Drs. Tajudin, MH (Wakapolda NTB) dan Narasumber utama adalah Abidah Elhalieqy (Penulis Novel Akulah istri Teroris)

Baiq mulianahS.PdI, M.Pd ( Rektor UNU NTB) menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini, mengingat maraknya aksi terorisme yang terjadi selama ini, Bq Mulianah berharap dengan terselenggaranya kegiatan ini dapat menjadi salah satu upaya dalam menangkal faham radikalisme yang dapat menghancurkan Negara ini.

Isi dari Novel ini selaras dengan apa yang diperjuangkan oleh Nahdlatul Ulama selama ini, sesuai dengan prinsip Mabadi khairu Ummah yakni Prinsip, tasammuh (toleransi), tawazzun (keseimbangan) dan taadul (keadilan).

Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan Masyarakat Umum  ini berlangsung menarik lantaran gaya pembicara utamanya, Abidah Elhalieqy  sangat luwes saat menguraikan isi Novelnya
Diawal pemaparannya Mbak Abidah menceritakan proses produksi Novel ini, ia menceritakan saat pertama kali ditunjuk oleh Kapolri untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai konsep jihad kepada kelompok masyarakat   yang terindikasi  memiliki pemahaman radikal,
Rasanya bener bener deg degan saat memasuki kampung janda, kampung yang diduga menjadi sarang terduga teroris, walaupun saat itu saya  dikawal oleh dua  orang Brimob.”tuturnya.

Ia juga menceritakan pengalaman saat pertama kali melakukan wawancara dengan  para istri terduga teroris di kampung janda yang berjarak sekitarnya 6 km dari kota Poso itu.

Mbak Abidah ditunjuk untuk menulis novel itu karena ialah yang dianggap tepat dilihat dari sisi pemahaman agama, pengalaman dalam dunia sastra dan juga dari perspektif gender.

Pemilihan Novel sebagai  alat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Novel yang ia karang ini bersifat Fiksi ilmiah karena bersumber dari fakta empiris yang terjadi di Indonesia.

Kombes Pol. Drs. Tajudin, MH (Wakapolda NTB) mengungkapkan secara sederhana bagaimana konsep teror yang sebenarnya. Teror merupakan tindakan yang dilakukan untuk menakut-nakuti orang lain. Ciri seseorang yang dapat berbuat radikal dan terror salah satunya adalah suka menyendiri atau menjauh dari pergaulan sosial. Namun yang patut disayangkan adalah, labelisasi teroris nyaris selalu dilekatkan pada agama tertentu, yang ini tentu saja tidak fair.

Wakapolda menambahkan kondisi Negara Indonesia saat ini sangatlah berbeda, hal ini terlihat pada terjadinya penurunan wawasan kebangsaan generasi muda.

“Terdapat sekelompok masyarakat yang tidak mau menerima perbedaan, memiliki rasa egoisme yang tinggi dan merasa kelompoknyalah yang  paling benar”.Jelasnya

Menyinggung terkait Rancangan  UU Terorisme, Wakapolda  menyatakan bahwa RUU terorisme ini perlu untuk segera disahkan karena terorisme harus dikawal dari hulu bukan dari hilir dan tentunya yang akan diberantas adalah para pelaku pelanggar hukum.

“kinerja kepolisian selama ini sama seperti pemadam kebakaran bertindak setelah kebakaran terjadi, kedua hal ini tidak bisa disamakan, tindakan teror apapun bentuknya harus dicegah  sedini mungkin” Sambungnya

Prof. Dr. TGH. Masnun, MA. Menceritakan bahwa ia telah lama mengikuti karya yang ditulis oleh Abidah Elhalieky semenjak masih studi di Yogyakarta, bahkan mereka merupakan satu alumni di UIN SUKA Yogyakarta.

Prof. Masnun melihat dari sudut pandang keilmuannya yakni Hukum Keluarga yang mana seorang perempuan bisa menjadi istri teroris bisa jadi karena faktor ketidak pahaman dalam ilmu agama, faktor ekonomi dan beberapa faktor lainnya.

“Seorang istri teroris belum tentu langsung ikut menjadi teroris, walaupun dalam kaidah agama disebutkan bahwa perempuan adalah mitra dari laki-laki, namun kaidah ini tidak boleh dimaknai secara teks saja, namun harus dilihat secara konteks dan dari sudut pandang yang lebih luas”. Pungkasnya

Leave a Reply